Semerbak aroma rindu yang kian lama
merayu. Sesosok pria telah kembali dari perantauannya. Menatap indah kampung
halamannya Kuta Lombok. Umar, dialah pria itu. Setelah sekian lama wajahnya
tidak pernah ditempa oleh sedapnya matahari pantai seger Lombok.
“Segar rasanya kembali kesini,“ batin
Umar.
Umar kemudian mengarungi tapak demi
setapak jalan menuju pantai yang menjadi saksi bisu cintanya. Umar memilih
berjalan kaki, rumahnya tak begitu jauh dari pantai, diseberang dekat dengan
pantai Kuta Lombok. Umar memperkirakan antara Pantai Kuta dengan Pantai Seger
hanya berjarak 2 km. Setiba didekat hotel Novotel, Umar berjalan menuju bukit
disebelah kiri, dibalik bukit itulah Pantai Seger yang dia tuju.
Umar sangat merindukan suasana ini, dan
tiba-tiba dia mengingat akan cintanya. “bagaimana ya kabar dia? aku tidak
berani menanyakannya kepada orang tuaku padahal kami adalah keluarga, lebih
tepatnya saudara sepupu. Tapi rasa maluku mengalahkan keberanianku,” gumam
Umar. Kakinya kembali menelusuri jalan, melewati jembatan yang sangat indah
terlebih lagi jika mengingat kenangannya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti,
ada sesosok bidadari yang berdiri tak jauh tepat didepannya dengan matanya yang
hitam tapi ada pelangi tergambar dibola matanya.
“Assalamu’alaikum kak Umar.” sapa
bidadari tersebut yang membuyarkan ketakjubannya.
“Ah wa’alaikumussalam”, jawabnya
terbata-bata.
Dia si bidadari berwajah manis yang
telah mengisi relung hati Umar selama ini. Benarkah dia, Nur yang dulu bertubuh
mungil dengan rambut hitam indahnya, namun sekarang terlihat sangat berbeda.
Umar mengukir senyum indahnya ketika melihat perbedaan pada diri Nur.
“Mau kemana pagi subuh begini Nur,
sendirian lagi,” tanya Umar lagi.
Tak sepatah katapun terucap hanya jari
telunjuknya mengarah kebalik bukit, ya jelas pasti dia ingin ke Pantai Seger. “Ya
udah yuk bareng-bareng,” ajak Umar. Tak banyak yang berubah dari tempat ini,
masih sama seperti yang dulu sebelum Umar meninggalkannya untuk menuntut ilmu
ke Mesir 7 tahun yang lalu. Mereka berdua berjalan melewati jembatan yang
pemandangan disekelilingnya membuat jiwa menjadi damai, kuasa Allah yang telah
menciptakan alam seindah ini. Umar cekikikan mengingat kembali masa lalu, dulu
sempat terpikirkan olehnya menamai jembatan ini jembatan cinta, yah dia membayangkan
seperti sinetron-sinetron di televisi “Cintaku Nyangkut di Jembatan Cinta,” ceilah
hihi. Tak diduga Nur ternyata memperhatikan tingkah konyol Umar, seraut
wajahnya menggambarkan , kok ada ya ustadz seperti ini. Umar hanya malu dengan
tingkahnya yang konyol tadi.
“Ternyata masih seperti yang dulu yah,
“ katanya sambil tersenyum menatap lurus kedepan.
Nur tersenyum manis sekali, senyum yang
membuat lesung pipinya semakin terlihat dalam, yang menyejukkan mata dan hati bila
memandangnya. Gadis yang Umar cintai karena ketangguhannya serta kasih
sayangnya kepada orang tua dan keluarga. Rasa itu bertambah lagi setelah lama tak
bertemu terlebih lagi karena Umar mencintainya karena Allah, dia wanita solehah
yang akan memberikan kebahagiaan disetiap kehidupan. insyaAllah.
Setelah menyebrangi jembatan, kemudian
mereka menaiki bukit yang hijau nan indah. Dan ....
“Awas ranjau,“ teriak Nur kepada Umar.
Umar pun kaget, dia lupa bahwa di bukit
ini banyak sekali kerbau yang dibiarkan lepas mencari rumput dan pastinya
dengan adanya kerbau-kerbau itu banyak sekali ranjau yang siap mengenai pasukan
penjalan kaki. Dengan jurus bangau terbang Umar menghindar dari jebakan
kerbauman, namun nasib berkata lain, kaki sayang kaki malang akhirnya ranjau
“kerbau” itu tak bisa terhindarkan. Seketika itu pula “iyuuuh”, ucap Nur sambil
menutup hidungnya.
Wajah Umar tak bisa menutupi rasa
jijiknya tapi sudahlah sebagai tanda welcome karena telah lama tak bersua. “Tunggu
ya tiang[1]
bersihkan dulu “ suruh Umar sambil berlari kecil menuju rerumputan untuk
membersihkan sandalnya.
Angin pantai yang menyejukkan indera
penciuman dengan pantainya yang masih alami. Semua mata yang berkunjung akan dimanjakan
dengan keindahan ciptaan-Nya yang tak ada duanya. Diseberang sana banyak yang
sedang berselancar, menikmati ombak yang semakin memperlihatkan keelokkannya
yang ganas. Sayang Umar tak seberani mereka dalam menaklukkan ombak namun dia ahli
dalam snorkling.
Pantai Seger yang udaranya begitu segar
persis seperti namanya ditambah lagi ada sesosok bidadari penyejuk hati semakin
menambah nikmat hidup ini. Sesosok gadis disamping Umar kini sedang tersenyum. Umar
teringat kembali mengapa dia sangat menyukainya bahkan sampai detik ini. Umur
mereka terpaut sangatlah jauh. Umar kini telah menginjak 33 tahun, terakhir
mereka bertemu ketika Nur masih berumur 14 tahun. Gadis mungil yang dengan
tangguhnya dia mengayuh sepeda ontel milik Amaqnya. Amaq, dia biasa memanggil
ayahnya dengan panggilan Amaq yang telah pingsan di sawah ketika bekerja. Tak
ada yang seorangpun yang ada disawah saat itu, tak mau melihat Amaqnya kesakitan,
dengan sekuat tenaganya dia membopong Amaqnya pulang.
Setelah sekian lama tak bersua, sepulang
Umar dari Mesir, dia terlihat semakin dewasa di umurnya yang ke-21. Rasa itu
kembali menyeruak didalam hati Umar, ya disini sambil menunjuk dadanya. “Apakah
ini saatnya mengutarakan perasaanku. Umar bin Ahmad ternyata tak seberani Umar
Bin Khattab, sahabat Nabi yang gagah berani dalam hal apapun khususnya
memperjuangkan islam. Namun sekarang giliranmu Umar bin Ahmad dalam
memperjuangkan cintamu,” pikir Umar pada dirinya sendiri. Kini dia ingin
melamar Nur terlebih dahulu sebelum menemui orang tuanya. Dalam hati Umar
berkata apakah Nur akan menerima atau menolak ya.
“Ah bodo amat yang penting dicoba dulu,”
sambil tersenyum membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. “Nur? tiang
ingin...”
“Kak Umar tadi malam tiang sudah
dilamar,”sambil menghela napas.
Kata-katanya membuat Umar diam dan
memandangnya sejenak. “Dia sudah dilamar orang lain,” batin Umar terasa seperti
ada yang memberontak, keinginannya untuk mempersunting Nur gagal. Umar berusaha
tegar dan menyembunyikan kesedihannya. “Oh siapa orang yang beruntung itu?”
Nur membalas memandang dan Umar segera
memalingkan muka ke arah depan, tak ingin dia mengetahui bahwa saat ini matanya
telah basah.
“Dia anak Pak Siddik mantri, dia baru
saja menyelesaikan studi kedokterannya, dan tadi malam bertemu dengan amaq membicarakan
hal ini. Amaq minta waktu bebrapa hari untuk membuat keputusan ya atau tidak,
Hmm”, desahnya.
“Seorang dokter?.” Calonnya adalah
seorang dokter dan Nur juga seorang bidan. Cocoklah bila dibandingkan dengan
aku, aku hanya seorang guru di madrasah kecil. ”Trus bagaimana denganmu, apakah
kamu menyukainya lalu akan menerima lamarannya?.”
Nur masih menatap pantai didepannya, “Tiang
tidak bisa berbuat apa-apa lagi kak karena sudah berapa laki-laki yang tiang
tolak dan sekarang amaq yang akan mengambil keputusan.“
“Berarti jika Amaq setuju, kamu akan
menikah?” Selidik Umar.
“Insya Allah,“ jawab Nur singkat.
Sunyi terasa walaupun di pantai begitu
banyak orang sedang menikmati Pantai Seger, namun tidak dengan Umar.
“ Tiang harus pulang dan tiang ingin
sendiri, “ kata Nur.
Kata-katanya mengisyaratkan Umar tak
boleh menemaninya. Dia mengucap salam sambil berlalu dari hadapan. Umar
memandangi pujaan hatinya, semakin jauh dan semakin jauh, terlihat jilbabnya
yang lebar tertiup angin pantai. Umar merebahkan badannya kepasir, terlihat
langit tak secerah biasanya akankah langit merasai juga bagaimana perasaan Umar
saat ini, suara ombak semakin terdengar seakan melantunkan lagu, ya lagu kuta
bali yang selama ini Umar nyanyikan.
/Sejak
saat itu hatiku tak mampu/
/Membayangkan
rasa di antara kita/
/Di
pasir putih/
/Kau
genggam jemari tanganku/
/Menatap
mentari yang tenggelam/
/Semua
berlalu dibalik hayalku/
/Kenangan
indah berdua denganmu/
/Di
Kuta Lombok/
/Kau
peluk erat tubuhku/
/Di
Kuta Lombok cinta kita/
/Bersemi
dan entah kapan kembali/
/Mewangi
dan tetap akan mewangi bersama rinduku walau kita jauh/
/Kasih,
suatu saat di Kuta Lombok/.
Dipertigaan malam Umar terbangun, dia
dengan kekusyukannya bersua dengan sang kekasih
sejati, kekasih yang selalu ada dimana hamba-Nya berada. Malam yang sunyi
semakin menambah kekhusyukannya, tak terasa matanya mengalirkan butir-butir air.
Wahai
Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah maha menyaksikan setiap pertemuaan.
Engkaulah Allah yang maha melihat . Tiada yang tersembunyi dimata-Mu
Ya Allah. Engkau tahu setiap lirikan mata, dan niat dibalik lirikan.
Engkau tahu apa yang ada dalam benak pikiran
hamba-Mu.
Engkaulah Allah Yang Maha Mendengar segala
sesuatu. Engkau Yang Maha Tahu orang-orang yang terluka hatinya.
Engkau Yang Maha Tahu setiap dusta yang
terucap. Engkau Maha Tahu setiap kebusukan hati kami.
Riya..., dibalik amal-amal kami.
Sombong... dan takaburnya diri kami.
Engkau Maha tahu setiap kedengkian yang
ada dihati ini. Engkaulah Allah yang telah menciptakan dan menyempurnakan. Engkau Maha Tahu setiap maksiat
yang terang terangan maupun yang tersembunyi. Saat ini kami dihargai bukan karena kemuliaan yang kami miliki.
Kami dihargai karena Engkau masih menutupi kebusukan kami yang
sebenarnya.
Andaikata Engkau berkehendak membeberkan. Maka tiada satupun yang dapat
menghalangi
Wahai Allah yang menguasai jiwa
Engkaulah yang lebih Mengetahui bagaimana
keadaan kami hamba-Mu
Ilahi Rabbi, hamba ingin memohon ridho-Mu
Lindungi
hamba dari murka-Mu. Jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Nur kepada-Mu,
hamba terlalu lemah untuk menanggungnya. Hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu,
cinta-Mu, dan ridha-Mu.
Rabbi...
Jika dia jodoh hamba maka dekatkanlah ya Allah, tapi jika dia bukan jodohku
maka bimbing hamba untuk menjadi orang yang sabar dan ikhlas menerima
keputusan-Mu Aamiin.
Ditempat lain sang gadis pujaan hati
juga sedang asyiknya bermunajat kepada Allah. Dia teringat akan kejadian sore
tadi. Amaq dengan bersikeras tetap melanjutkan pertunangan, beliau lebih
mempercayai si Amir yang mata keranjang itu. Bagaimana tidak, Amaq paling cepat
terpengaruh orang lain apalagi Amaq sangat menghormati Pak Siddik ayah dari si
playboy itu. Terjadi perbincangan antara Nur dengan Amaq.
“Aku gak mau dijodohkan dengan Ammir, Amaq.”
“Kenapa? Karena kamu melihatnya jalan
bareng dengan seorang perempuan tadi sore.”
“Bukan hanya jalan biasa Amaq, tapi
gandengan tangan, apa itu bukan namanya pacaran. Kami baru bertunangan saja,
dia sudah berani gandeng perempuan lain, bagaimana jika sudah menikah nanti,” suaranya
semakin dipertegas.
“Sudah sudah Amaq lebih percaya Ammir
karena tadi dia langsung menemui Amaq untuk menjelaskan semuanya. Dan kamu Nur
jangan pernah mempermalukannya lagi di banyak orang. Amaq kecewa dibuatmu,” amaq
kemudian meninggalkan Nur seorang diri.
Tak terasa butiran halus dan hangat
mengalir dipipinya, Nur menyemangati dirinya sendiri “aku harus belajar ikhlas
jika semua tak sesuai dengan harapanku, Allah tak mungkin mengingkari janji-Nya.
Aku ingat tausyiah kemarin, ustadzah membacakan surat Nur ayat 26 yang
menerangkan bahwa wanita-wanita yang keji
adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik
(pula).... Kurang lebih seperti itulah artinya dan aku masih sangat meyakini
akan hal itu. Ya Allah hamba berserah diri kepada-Mu.”
Sudah 2 minggu setelah pertemuan mereka
di Pantai Seger, tak pernah lagi mereka bertatap muka. Umar teringat akan
doanya “aku berharap dia menjadi jodohku tapi jika saat ini Allah berhendak
lain, aku harus ikhlas demi kebahagiaannya”. Umar termenung sendiri di berugak[2]
rumahnya, semilir angin membuatnya mengantuk namun dia sedang menunggu
teman-teman yang mengajaknya untuk snorkling di pantai seger.
“Assalamu’alaikum Ustadz dah lama
menunggukah?” sapa Sofian, salah satu dari mereka yang menghampiri Umar.
“Wa’alaikumussalam, lumayanlah 3 jam,
hehe bercanda-bercanda,” sahut Umar.
“Eh ngomong-ngomong, kamu sudah tahu
belum Ustadz bahwa Amaq si Nur telah membatalkan pertunangan anaknya, soalnya....
Sambil berbisik takut terdengar orang. “Si laki-lakinya menghamili gadis lain,
spektakuler kan gosipnya, hehehe,” semua
tertawa kecuali Umar.
“Eh ustadz, setahuku kamu menyukai Nur
sejak dia masih bontot sampai saat kami-kami ini sudah menikah, kamu masih saja
membujang demi menunggu Nur sikembang desa Kuta.” ledek Sofian. “Selagi ada
kesempatan, cobalah kamu melamarnya tiada yang tahu siapa jodohmu nanti,”
tambahnya lagi.
“Ayolah Umar jangan buang-buang waktu,
ntar disambit orang lain lho,” yang lain menambahkan.
Umar merenungi setiap perkataan
teman-temannya. “Akankah ini jalan-Mu ya Allah, akankah ini jawaban atas
doa-doaku selama ini,” Umar bangkit kemudian bergegas kembali kerumahnya.
“Eh Ustadz mau kemana?
“Mau mengejar cintaku.” teriak Umar. Di
rumah Umar sedang mempersiapkan diri untuk pergi kerumah Nur untuk menemui
amaqnya, ya kalau ada bonus bisa sekalian bertemu dengan Nur. Cukup berjalan
kaki hanya beberapa meter dari rumahnya akhirnya sampailah ia di rumah sang pujaan
hati. Bagaikan tersengat listrik sekujur tubuhnya merasa ada getaran-getaran
yang sangat hebat. “hmm bismillah,” ucapnya.
“Eh Nak Umar, tumben mampir kerumah. Jak
kembe[3]?,”
kata Amaq.
“Bismillahirrahmanirrahim, gini Amaq
tujuan Tiang datang kesini mau bersilaturahmi dan ingin bertemu dengan amaq
juga sih.”
“Ya ini kan, udah ketemu trus mau ada
apa?” jawab Amaq.
“Aduh bagaimana ini, kok gak bisa
dikeluarkan sih. Hmmm gini Amaq sejujurnya tiang menyukai Nur sejak dia masih
kecil dan Tiang bermaksud untuk melamarnya.”
Amaq menatap tajam kearah Umar sehingga
membuat Umar tak karuan, deg-degan atas jawaban Amaq. Amaq hanya tersenyum sambil
mengucapkan “ selamat datang wahai anakku.” Lalu amaq bangkit dari tempat
duduknya masuk kedalam dan Umar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal “Tadi
jawaban Amaq apa ya? Ya atau tidak, yes or no, aok ato ndek.”
Dan dibalik tirai muncul Nur dengan
pakaiannya yang berwarna biru menambah keanggunannya. Nur duduk ditempat Amaqnya
tadi, mereka berdua hanya menunduk tak tahu harus memulai pembicaraan dari
mana.
“Eh ya dek, tadi tiang baru saja
berbincang dengan Amaq, tiang mmm tiang udah melamar adek, tapi jujur bingung
soalnya Amaq hanya menjawab “ selamat datang wahai anakku,” Umar mengusap keningnya.
Tiba-tiba Nur tersenyum lebar, hampir
mau tertawa tapi hanya tertawa kecil.
“Kakak ini jauh-jauh sekolah di Mesir
gak mengerti kata yang tersirat dari setiap omongan orang tua. Selamat datang
wahai anakku berarti iya, saya perjelas lagi iya,”
Umar merasa ada suara kembang api
meletup-letup di atas kepalanya, perasaanya yang sekarang bagai indahnya sungai
nil dimalam hari. Rasa syukurnya kepada sang Maha Cinta, Allah tidak akan
pernah mengingkari janji-Nya, itu Pasti.
Di subuh hari, seperti biasa di bulan
maret. Umar dan Nur beserta masyarakat Lombok Tengah bahkan ada juga yang
berasal dari luar Lombok Tengah sudah menyibukkan diri di pantai seger, mereka
berbondong-bondong mencari nyale si cacing laut yang berwarna warni yang konon adalah
jelmaan Putri Mandalika, putri Kerajaan Lombok. Nur sendiri terlihat geli
ketika memegang cacing-cacing tersebut. Namun mereka terlihat sangat bahagia
mengikuti acara tradisi bau nyale.
“Eh ya dek Nur, kamu itu seperti Putri Mandalika
yang cantik nan jelita sehingga banyak laki-laki yang ingin mempersunting
menjadi istrinya,” kata Umar kepada Nur yang lagi fokus mencari nyale.
“Hmm tapi aku maunya seperti Fatimah
putri baginda Rasulullah, putri mandalika kan akhirnya terjun dari bukit itu
dan tak berapa lama setelah putri mandalika hanyut ditelan ombak tiba-tiba
muncul binatang-binatang ini, emang mau ya tiang berubah jadi nyale”.
“Hahaha jika kamu terjun dari bukit
itu, tiang akan berlari dan ikut terjun. Tiang akan selamatkan sang pujaan
hati, kakak kan jago menyelam hihi,” goda Umar sehingga membuat Nur tersipu
malu.
Umar memandangi Nur yang sedang asyik
dengan nyalenya “Ya Allah Kau kabulkan doaku dan saat ini rindu akan dirinya
yang telah merayuku sekian lama, insya Allah akan segera terbayar dengan sebuah
pernikahan yang Engkau Ridhoi. Aamiin.



