Rabu, 26 Agustus 2015

RAYUAN RINDU


Semerbak aroma rindu yang kian lama merayu. Sesosok pria telah kembali dari perantauannya. Menatap indah kampung halamannya Kuta Lombok. Umar, dialah pria itu. Setelah sekian lama wajahnya tidak pernah ditempa oleh sedapnya matahari pantai seger Lombok.
“Segar rasanya kembali kesini,“ batin Umar.
Umar kemudian mengarungi tapak demi setapak jalan menuju pantai yang menjadi saksi bisu cintanya. Umar memilih berjalan kaki, rumahnya tak begitu jauh dari pantai, diseberang dekat dengan pantai Kuta Lombok. Umar memperkirakan antara Pantai Kuta dengan Pantai Seger hanya berjarak 2 km. Setiba didekat hotel Novotel, Umar berjalan menuju bukit disebelah kiri, dibalik bukit itulah Pantai Seger yang dia tuju.
Umar sangat merindukan suasana ini, dan tiba-tiba dia mengingat akan cintanya. “bagaimana ya kabar dia? aku tidak berani menanyakannya kepada orang tuaku padahal kami adalah keluarga, lebih tepatnya saudara sepupu. Tapi rasa maluku mengalahkan keberanianku,” gumam Umar. Kakinya kembali menelusuri jalan, melewati jembatan yang sangat indah terlebih lagi jika mengingat kenangannya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, ada sesosok bidadari yang berdiri tak jauh tepat didepannya dengan matanya yang hitam tapi ada pelangi tergambar dibola matanya.
“Assalamu’alaikum kak Umar.” sapa bidadari tersebut yang membuyarkan ketakjubannya.
“Ah wa’alaikumussalam”, jawabnya terbata-bata.
Dia si bidadari berwajah manis yang telah mengisi relung hati Umar selama ini. Benarkah dia, Nur yang dulu bertubuh mungil dengan rambut hitam indahnya, namun sekarang terlihat sangat berbeda. Umar mengukir senyum indahnya ketika melihat perbedaan pada diri Nur.
“Mau kemana pagi subuh begini Nur, sendirian lagi,” tanya Umar lagi.
Tak sepatah katapun terucap hanya jari telunjuknya mengarah kebalik bukit, ya jelas pasti dia ingin ke Pantai Seger. “Ya udah yuk bareng-bareng,” ajak Umar. Tak banyak yang berubah dari tempat ini, masih sama seperti yang dulu sebelum Umar meninggalkannya untuk menuntut ilmu ke Mesir 7 tahun yang lalu. Mereka berdua berjalan melewati jembatan yang pemandangan disekelilingnya membuat jiwa menjadi damai, kuasa Allah yang telah menciptakan alam seindah ini. Umar cekikikan mengingat kembali masa lalu, dulu sempat terpikirkan olehnya menamai jembatan ini jembatan cinta, yah dia membayangkan seperti sinetron-sinetron di televisi “Cintaku Nyangkut di Jembatan Cinta,” ceilah hihi. Tak diduga Nur ternyata memperhatikan tingkah konyol Umar, seraut wajahnya menggambarkan , kok ada ya ustadz seperti ini. Umar hanya malu dengan tingkahnya yang konyol tadi.
“Ternyata masih seperti yang dulu yah, “ katanya sambil tersenyum menatap lurus kedepan.
Nur tersenyum manis sekali, senyum yang membuat lesung pipinya semakin terlihat dalam, yang menyejukkan mata dan hati bila memandangnya. Gadis yang Umar cintai karena ketangguhannya serta kasih sayangnya kepada orang tua dan keluarga. Rasa itu bertambah lagi setelah lama tak bertemu terlebih lagi karena Umar mencintainya karena Allah, dia wanita solehah yang akan memberikan kebahagiaan disetiap kehidupan. insyaAllah.
Setelah menyebrangi jembatan, kemudian mereka menaiki bukit yang hijau nan indah. Dan ....
“Awas ranjau,“ teriak Nur kepada Umar.
            Umar pun kaget, dia lupa bahwa di bukit ini banyak sekali kerbau yang dibiarkan lepas mencari rumput dan pastinya dengan adanya kerbau-kerbau itu banyak sekali ranjau yang siap mengenai pasukan penjalan kaki. Dengan jurus bangau terbang Umar menghindar dari jebakan kerbauman, namun nasib berkata lain, kaki sayang kaki malang akhirnya ranjau “kerbau” itu tak bisa terhindarkan. Seketika itu pula “iyuuuh”, ucap Nur sambil menutup hidungnya.
Wajah Umar tak bisa menutupi rasa jijiknya tapi sudahlah sebagai tanda welcome karena telah lama tak bersua. “Tunggu ya tiang[1] bersihkan dulu “ suruh Umar sambil berlari kecil menuju rerumputan untuk membersihkan sandalnya.
Angin pantai yang menyejukkan indera penciuman dengan pantainya yang masih alami. Semua mata yang berkunjung akan dimanjakan dengan keindahan ciptaan-Nya yang tak ada duanya. Diseberang sana banyak yang sedang berselancar, menikmati ombak yang semakin memperlihatkan keelokkannya yang ganas. Sayang Umar tak seberani mereka dalam menaklukkan ombak namun dia ahli dalam snorkling.
Pantai Seger yang udaranya begitu segar persis seperti namanya ditambah lagi ada sesosok bidadari penyejuk hati semakin menambah nikmat hidup ini. Sesosok gadis disamping Umar kini sedang tersenyum. Umar teringat kembali mengapa dia sangat menyukainya bahkan sampai detik ini. Umur mereka terpaut sangatlah jauh. Umar kini telah menginjak 33 tahun, terakhir mereka bertemu ketika Nur masih berumur 14 tahun. Gadis mungil yang dengan tangguhnya dia mengayuh sepeda ontel milik Amaqnya. Amaq, dia biasa memanggil ayahnya dengan panggilan Amaq yang telah pingsan di sawah ketika bekerja. Tak ada yang seorangpun yang ada disawah saat itu, tak mau melihat Amaqnya kesakitan, dengan sekuat tenaganya dia membopong Amaqnya pulang.
Setelah sekian lama tak bersua, sepulang Umar dari Mesir, dia terlihat semakin dewasa di umurnya yang ke-21. Rasa itu kembali menyeruak didalam hati Umar, ya disini sambil menunjuk dadanya. “Apakah ini saatnya mengutarakan perasaanku. Umar bin Ahmad ternyata tak seberani Umar Bin Khattab, sahabat Nabi yang gagah berani dalam hal apapun khususnya memperjuangkan islam. Namun sekarang giliranmu Umar bin Ahmad dalam memperjuangkan cintamu,” pikir Umar pada dirinya sendiri. Kini dia ingin melamar Nur terlebih dahulu sebelum menemui orang tuanya. Dalam hati Umar berkata apakah Nur akan menerima atau menolak ya.
“Ah bodo amat yang penting dicoba dulu,” sambil tersenyum membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. “Nur? tiang ingin...”
“Kak Umar tadi malam tiang sudah dilamar,”sambil menghela napas.
Kata-katanya membuat Umar diam dan memandangnya sejenak. “Dia sudah dilamar orang lain,” batin Umar terasa seperti ada yang memberontak, keinginannya untuk mempersunting Nur gagal. Umar berusaha tegar dan menyembunyikan kesedihannya. “Oh siapa orang yang beruntung itu?”
Nur membalas memandang dan Umar segera memalingkan muka ke arah depan, tak ingin dia mengetahui bahwa saat ini matanya telah basah.
“Dia anak Pak Siddik mantri, dia baru saja menyelesaikan studi kedokterannya, dan tadi malam bertemu dengan amaq membicarakan hal ini. Amaq minta waktu bebrapa hari untuk membuat keputusan ya atau tidak, Hmm”, desahnya.
“Seorang dokter?.” Calonnya adalah seorang dokter dan Nur juga seorang bidan. Cocoklah bila dibandingkan dengan aku, aku hanya seorang guru di madrasah kecil. ”Trus bagaimana denganmu, apakah kamu menyukainya lalu akan menerima lamarannya?.”
Nur masih menatap pantai didepannya, “Tiang tidak bisa berbuat apa-apa lagi kak karena sudah berapa laki-laki yang tiang tolak dan sekarang amaq yang akan mengambil keputusan.“
“Berarti jika Amaq setuju, kamu akan menikah?” Selidik Umar.
“Insya Allah,“ jawab Nur singkat.
Sunyi terasa walaupun di pantai begitu banyak orang sedang menikmati Pantai Seger, namun tidak dengan Umar.
“ Tiang harus pulang dan tiang ingin sendiri, “ kata Nur.
Kata-katanya mengisyaratkan Umar tak boleh menemaninya. Dia mengucap salam sambil berlalu dari hadapan. Umar memandangi pujaan hatinya, semakin jauh dan semakin jauh, terlihat jilbabnya yang lebar tertiup angin pantai. Umar merebahkan badannya kepasir, terlihat langit tak secerah biasanya akankah langit merasai juga bagaimana perasaan Umar saat ini, suara ombak semakin terdengar seakan melantunkan lagu, ya lagu kuta bali yang selama ini Umar nyanyikan.
/Sejak saat itu hatiku tak mampu/
/Membayangkan rasa di antara kita/
/Di pasir putih/
/Kau genggam jemari tanganku/
/Menatap mentari yang tenggelam/
/Semua berlalu dibalik hayalku/
/Kenangan indah berdua denganmu/
/Di Kuta Lombok/
/Kau peluk erat tubuhku/
/Di Kuta Lombok cinta kita/
/Bersemi dan entah kapan kembali/
/Mewangi dan tetap akan mewangi bersama rinduku walau kita jauh/
/Kasih, suatu saat di Kuta Lombok/.
Dipertigaan malam Umar terbangun, dia dengan kekusyukannya bersua dengan sang kekasih  sejati, kekasih yang selalu ada dimana hamba-Nya berada. Malam yang sunyi semakin menambah kekhusyukannya, tak terasa matanya mengalirkan butir-butir air.
Wahai Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah maha menyaksikan setiap pertemuaan.
Engkaulah Allah yang maha melihat . Tiada yang tersembunyi dimata-Mu Ya Allah. Engkau tahu setiap lirikan mata, dan niat dibalik lirikan. Engkau tahu apa yang ada dalam benak pikiran hamba-Mu.
Engkaulah Allah Yang Maha Mendengar segala sesuatu. Engkau Yang Maha Tahu orang-orang  yang terluka hatinya. Engkau Yang Maha Tahu setiap dusta yang terucap. Engkau  Maha Tahu setiap kebusukan hati kami.
Riya..., dibalik amal-amal kami.
Sombong... dan takaburnya diri kami.
Engkau Maha tahu setiap kedengkian yang ada dihati ini. Engkaulah Allah yang telah menciptakan dan menyempurnakan. Engkau Maha Tahu setiap maksiat yang terang terangan maupun yang tersembunyi. Saat ini kami dihargai bukan karena kemuliaan yang kami miliki. Kami dihargai karena Engkau masih menutupi kebusukan kami yang sebenarnya.
Andaikata Engkau berkehendak membeberkan. Maka tiada satupun yang dapat menghalangi
Wahai Allah yang menguasai jiwa
Engkaulah yang lebih Mengetahui bagaimana keadaan kami hamba-Mu
Ilahi Rabbi, hamba ingin memohon ridho-Mu
Lindungi hamba dari murka-Mu. Jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Nur kepada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggungnya. Hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu.
Rabbi... Jika dia jodoh hamba maka dekatkanlah ya Allah, tapi jika dia bukan jodohku maka bimbing hamba untuk menjadi orang yang sabar dan ikhlas menerima keputusan-Mu Aamiin.

Ditempat lain sang gadis pujaan hati juga sedang asyiknya bermunajat kepada Allah. Dia teringat akan kejadian sore tadi. Amaq dengan bersikeras tetap melanjutkan pertunangan, beliau lebih mempercayai si Amir yang mata keranjang itu. Bagaimana tidak, Amaq paling cepat terpengaruh orang lain apalagi Amaq sangat menghormati Pak Siddik ayah dari si playboy itu. Terjadi perbincangan antara Nur dengan Amaq.
“Aku gak mau dijodohkan dengan Ammir, Amaq.”
“Kenapa? Karena kamu melihatnya jalan bareng dengan seorang perempuan tadi sore.”
“Bukan hanya jalan biasa Amaq, tapi gandengan tangan, apa itu bukan namanya pacaran. Kami baru bertunangan saja, dia sudah berani gandeng perempuan lain, bagaimana jika sudah menikah nanti,” suaranya semakin dipertegas.
“Sudah sudah Amaq lebih percaya Ammir karena tadi dia langsung menemui Amaq untuk menjelaskan semuanya. Dan kamu Nur jangan pernah mempermalukannya lagi di banyak orang. Amaq kecewa dibuatmu,” amaq kemudian meninggalkan Nur seorang diri.
Tak terasa butiran halus dan hangat mengalir dipipinya, Nur menyemangati dirinya sendiri “aku harus belajar ikhlas jika semua tak sesuai dengan harapanku, Allah tak mungkin mengingkari janji-Nya. Aku ingat tausyiah kemarin, ustadzah membacakan surat Nur ayat 26 yang menerangkan bahwa wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula).... Kurang lebih seperti itulah artinya dan aku masih sangat meyakini akan hal itu. Ya Allah hamba berserah diri kepada-Mu.”
Sudah 2 minggu setelah pertemuan mereka di Pantai Seger, tak pernah lagi mereka bertatap muka. Umar teringat akan doanya “aku berharap dia menjadi jodohku tapi jika saat ini Allah berhendak lain, aku harus ikhlas demi kebahagiaannya”. Umar termenung sendiri di berugak[2] rumahnya, semilir angin membuatnya mengantuk namun dia sedang menunggu teman-teman yang mengajaknya untuk snorkling di pantai seger.
“Assalamu’alaikum Ustadz dah lama menunggukah?” sapa Sofian, salah satu dari mereka yang menghampiri Umar.
“Wa’alaikumussalam, lumayanlah 3 jam, hehe bercanda-bercanda,” sahut Umar.
“Eh ngomong-ngomong, kamu sudah tahu belum Ustadz bahwa Amaq si Nur telah membatalkan pertunangan anaknya, soalnya.... Sambil berbisik takut terdengar orang. “Si laki-lakinya menghamili gadis lain, spektakuler kan gosipnya, hehehe,”  semua tertawa kecuali Umar.
“Eh ustadz, setahuku kamu menyukai Nur sejak dia masih bontot sampai saat kami-kami ini sudah menikah, kamu masih saja membujang demi menunggu Nur sikembang desa Kuta.” ledek Sofian. “Selagi ada kesempatan, cobalah kamu melamarnya tiada yang tahu siapa jodohmu nanti,” tambahnya lagi.
“Ayolah Umar jangan buang-buang waktu, ntar disambit orang lain lho,” yang lain menambahkan.
Umar merenungi setiap perkataan teman-temannya. “Akankah ini jalan-Mu ya Allah, akankah ini jawaban atas doa-doaku selama ini,” Umar bangkit kemudian bergegas kembali kerumahnya.
“Eh Ustadz mau kemana?
“Mau mengejar cintaku.” teriak Umar. Di rumah Umar sedang mempersiapkan diri untuk pergi kerumah Nur untuk menemui amaqnya, ya kalau ada bonus bisa sekalian bertemu dengan Nur. Cukup berjalan kaki hanya beberapa meter dari rumahnya akhirnya sampailah ia di rumah sang pujaan hati. Bagaikan tersengat listrik sekujur tubuhnya merasa ada getaran-getaran yang sangat hebat. “hmm bismillah,” ucapnya.
“Eh Nak Umar, tumben mampir kerumah. Jak kembe[3]?,” kata Amaq.
“Bismillahirrahmanirrahim, gini Amaq tujuan Tiang datang kesini mau bersilaturahmi dan ingin bertemu dengan amaq juga sih.”
“Ya ini kan, udah ketemu trus mau ada apa?” jawab Amaq.
“Aduh bagaimana ini, kok gak bisa dikeluarkan sih. Hmmm gini Amaq sejujurnya tiang menyukai Nur sejak dia masih kecil dan Tiang bermaksud untuk melamarnya.”
Amaq menatap tajam kearah Umar sehingga membuat Umar tak karuan, deg-degan atas jawaban Amaq. Amaq hanya tersenyum sambil mengucapkan “ selamat datang wahai anakku.” Lalu amaq bangkit dari tempat duduknya masuk kedalam dan Umar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal “Tadi jawaban Amaq apa ya? Ya atau tidak, yes or no, aok ato ndek.”
Dan dibalik tirai muncul Nur dengan pakaiannya yang berwarna biru menambah keanggunannya. Nur duduk ditempat Amaqnya tadi, mereka berdua hanya menunduk tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
“Eh ya dek, tadi tiang baru saja berbincang dengan Amaq, tiang mmm tiang udah melamar adek, tapi jujur bingung soalnya Amaq hanya menjawab “ selamat datang wahai anakku,” Umar mengusap keningnya.
Tiba-tiba Nur tersenyum lebar, hampir mau tertawa tapi hanya tertawa kecil.
“Kakak ini jauh-jauh sekolah di Mesir gak mengerti kata yang tersirat dari setiap omongan orang tua. Selamat datang wahai anakku berarti iya, saya perjelas lagi iya,”
Umar merasa ada suara kembang api meletup-letup di atas kepalanya, perasaanya yang sekarang bagai indahnya sungai nil dimalam hari. Rasa syukurnya kepada sang Maha Cinta, Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya, itu Pasti.
Di subuh hari, seperti biasa di bulan maret. Umar dan Nur beserta masyarakat Lombok Tengah bahkan ada juga yang berasal dari luar Lombok Tengah sudah menyibukkan diri di pantai seger, mereka berbondong-bondong mencari nyale si cacing laut yang berwarna warni yang konon adalah jelmaan Putri Mandalika, putri Kerajaan Lombok. Nur sendiri terlihat geli ketika memegang cacing-cacing tersebut. Namun mereka terlihat sangat bahagia mengikuti acara tradisi bau nyale.
“Eh ya dek Nur, kamu itu seperti Putri Mandalika yang cantik nan jelita sehingga banyak laki-laki yang ingin mempersunting menjadi istrinya,” kata Umar kepada Nur yang lagi fokus mencari nyale.
“Hmm tapi aku maunya seperti Fatimah putri baginda Rasulullah, putri mandalika kan akhirnya terjun dari bukit itu dan tak berapa lama setelah putri mandalika hanyut ditelan ombak tiba-tiba muncul binatang-binatang ini, emang mau ya tiang berubah jadi nyale”.
“Hahaha jika kamu terjun dari bukit itu, tiang akan berlari dan ikut terjun. Tiang akan selamatkan sang pujaan hati, kakak kan jago menyelam hihi,” goda Umar sehingga membuat Nur tersipu malu.
Umar memandangi Nur yang sedang asyik dengan nyalenya “Ya Allah Kau kabulkan doaku dan saat ini rindu akan dirinya yang telah merayuku sekian lama, insya Allah akan segera terbayar dengan sebuah pernikahan yang Engkau Ridhoi. Aamiin.



[1] Saya (bahasa sasak)
[2] Tempat duduk sederhana memiliki tiang dengan lantainya dari kayu tanpa pagar
[3] Mau Ngapain?

Menulis Itu Cantik ... ^_^


Menulis itu cantik. Ada apa dengan menulis sehingga saya bisa mengatakan menulis itu cantik. Bukan maksud seperti artis syahrini yang maju mundur maju mundur cantik cantik. Menurut saya menulis itu adalah menuangkan isi pikiran atau perasaan melalui tulisan, yang artinya apa yang menjadi pikiran dan maksud hati bisa diketahui melalui tulisan yang saya tulis.
Menjadi seorang penulis itu haruslah memiliki alasan dan motivasi untuk selalu mengembangkan tulisan menjadi lebih baik lagi. Dari sekian banyak orang yang saya tanya baik itu orang-orang disekitar saya atau orang-orang yang saya ketemui di media sosial yang telah merambah jalur hidupnya melalui menulis. Banyak alasan yang dikemukakan seperti menulis itu adalah hobi dan itu sudah berlangsung sangat lama dan dengan menulis kita bisa berbagi dengan yang lain, ada juga yang mengatakan jika kita berkata mungkin apa yang kita katakan hanya akan bertahan sebentar di memori pendengar, dan dengan menulis maka apa yang kita sampaikan akan membekas lama bagi mereka yang membaca. Kalaupun mereka lupa, maka mereka bisa melihat kembali apa yang kita tulis tanpa harus kembali bertemu kita. Saya sangat setuju akan hal itu.

Di kesempatan lain, saya berkumpul dengan grup menulis di whatsapp, saya ingat betul kata-kata dari coachnya yakni saya hanya ingin keturunan saya tahu bahwa saya pernah ada dimuka bumi, pernah hidup dan memberi sesuatu.

Setiap orang memiliki alasan-alasan yang berbeda dalam hal keharusan dalam menulis dan saya menulis untuk memberi manfaat atau solusi bagi yang lain. Seperti kata-kata bijak yang sering saya dengar : Berikanlah apa yang orang lain inginkan maka engkau akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Ada beberapa asalan saya mengaharuskan untuk terus menulis yakni :
1.      Meraih kepuasan diri dan menambah kreativitas
Menulis itu bagi saya merupakan cara saya memuaskan diri. Contohnya ketika uneg-uneg telah bejibun di kepala dan hati, hal yang saya lakukan adalah dengan menulis semuanya dalam diary. menulis dengan hati dan tanpa beban memberikan efek pada hati senang, pikiran tenang dan pastinya awet muda. Cantik kan!.
2.      Menjalin silaturahim
Hal yang tak terduga dengan menulis, saya bisa berkenalan dengan orang-orang baru terlebih mereka yang telah berkecimpung di dunia tulis-menulis. Semangat saya selalu terbakar oleh kobaran api semangat juang mereka. Terlebih ketika tulisan kita diterbitkan, tahu-tahu datang message dari seseorang yang ternyata menggemari tulisan kita dan menanyakan kapan tulisan selanjutnya. Ada juga yang mengatakan bahwa terima kasih tulisanmu telah banyak memberikan manfaat bagi hidup saya. Wah ini nilai plus buat semangat menulis. Cantik perasaannya, terharu.
3.      Meninggalkan karya nyata yang bermanfaat
Semua orang pasti ingin dikenang selalu walaupun jasad sudah tak ditempat. Dengan tulisan orang yang telah lama meninggal bahkan yang sudah ribuan tahun bisa kita kenal dengan tulisan-tulisan mereka. Itu alasan saya mengapa saya sangat menggebu-gebu dalam hal menulis. Saya ingin meninggalkan kisah nyata dengan memberi manfaat kepada orang banyak.
4.      Berdakwah
Dakwah itu jalannya bermacam-macam, dan saya memulainya melalui tulisan. Bahkan apa yang kita tulis, akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Karena tak mustahil, tulisan itu bisa menjerumuskan seseorang ke lubang kenistaan atau malah memberikan nilai positif kepada orang lain. Menulis itu cantik di mata Allah karena menulis juga disebutkan dalam firman-Nya. “  Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan “ (QS Al-Qalam : 1-2).
5.      Menambah isi kantong pastinya.

Ini nih yang cantik. Dengan menerbitkan buku atau mengirim tulisan ke media massa, pastinya akan berdampak pada tebalnya kantong si penulis. Tapi ingat, uang itu hanya dampak dari hasil tulisan kita karena jika alasan utama kita adalah uang biasanya kita akan cepat bosan dan secara perlahan akan mengurangi semangat menulis apalagi jika honornya sedikit. Kita melupakan apa tujuan awal kita yakni menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak.  Penulis bisa kaya dan terkenal hanya dengan 26 huruf alfhabet saja. Cantiknya penulis itu disini. Hehe

Selasa, 25 Agustus 2015

Sepenggal Episode ( Bawalah Pergi )


"Bawalah Pergi Cintaku "
Akhirnya ini terjadi lagi. aku dihadapkan oleh pilihan yang sama. Kembali untuk tidak dengannya atau dengannya. itu bukan masalah perasaanku tapi juga perasaan dengan yang lain.
cukup sudaaaahh , batinku berteriak.
aku ingin bersamanya tapi dia bukan lagi untukku.
teringat apa yang menjadi kenangan, telah membuatku menjadi perempuan egois yang ingin menjadikan dirinya satu-satunya perempuan dalam hidupnya.
"aku selalu mencintaimu walaupun kamu bukan yang pertama lagi" sambil menatap lekat dikedua mataku.
Ah segampang itukah. Mencintainya karena Allah dan rela untuk menjadi yang kedua. Tapi ternyata aku tak sekuat perkiraanku. Terlalu rapuh dikala kejadian itu.
"Tak sadarkah. Kamu telah menyakitiku dengan sangat halus. Aku harap kamu mendapatkan pasangan yang lebih baik. itu harapanku dek". Tulisan demi tulisan dikirimkannya melalui sms. cukup membuatku kaget terlebih karena yang pertama telah menghubungi. Kutatap laki-laki yang telah mengisi relung hatiku sekian lama. Perpisahan yang telah membuatku sakit sampai saat ini. Pilihan yang membuatku harus memilih. Memilih dia atau orang tua.
Aku yang sedari tadi telah basah, basah oleh air mata kepedihan yang bertahun-tahun tersimpan. Bodohnya. Salahkah aku mencintainya sampai saat ini. Tidak ada yang salah dengan cinta, hanya yang salah adalah pelaku cinta.
Hmmm hhhh... kuhirup sedalam-dalamnya dan hembuskan sekuat-kuatnya. Bismillah, dengan kekuatan hati.
" Aku bukan untukmu, maaf". Kutinggalkan cinta ini bersamanya, kutitipkan cinta ini ditempat ini. tempat dimana begitu banyak kenangan. dia tetap dengan diamnya. tak ingin memaksakan apapun pilihanku. Dia telah memilih dari awal.
jarak telah membentang. Air mata kesedihan dan kebahagiaan bercampur. kepedihan karena cintaku yang begitu lama mengendap telah pergi untuk selamanya. Bahagia telah memberikan kembali kebahagiaan wanita lain yang telah direnggut kebahagiaannya oleh keegoisan.
Kukembalikan kekasih halalmu. Siap mencari kekasihku. kekasih yang masih disimpan erat rahasianya oleh sang Maha Cinta.
berjalan mengarungi Mataram yang panas dengan headset terpasang. alunan lagu mengalir dengan indahnya.

Sumpah tak ada lagiKesempatan untuk kuBisa bersamamuKini ku tauBagaimana cara kuUntuk dapat trus denganmu
Bawalah pergi cintakuPada ke mana pun kau mauJadikan temanmuTemanmu paling kau cintaDi sini ku pun begituTrus cintaimu di hidupkuDi dalam hatikuSampai waktu yang pertemukanKita nanti...


 * gak ngerti jalan ceritanya karena menulisnya dalam keadaan ngantuk... hehe
* proses belajar....